Bicara Dengan Bahasa Hati

June 17th, 2006 by kawakibee

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.
                                    
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa
tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam
menjalani segala sesuatunya.
                                                    
Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya
dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat.
Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis.
Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang
jauh di dalam dada anda.
                                                
Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada
keberhasilan anda.

(thanks to Ana)

Quote of the day

May 1st, 2006 by kawakibee

A learned man has always wealth in himself

welcome to my blog

February 11th, 2006 by kawakibee

hi!
kita ketemu lagi di kawakibee’s blog.

blog ini berisi kumpulan dari pengalaman, pemikiran, pendapat, hal-hal yang lucu, menyenangkan, mungkin juga yang menyedihkan yang menurut gue perlu disimpan untuk diambil hikmahnya.

ini semua gue dapet dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain, dari buku, koran, postingan email, bulletin board.. dari mana aja..
semoga bisa bermanfaat.

thanks for visiting my blog.

*iwul

Buka tabungan berhadiah mie instan

February 11th, 2006 by kawakibee

Perilaku bank-bank belakangan ini memang mengindikasikan mereka lagi
butuh dana. Bunga deposito naik, dari rata-rata 8% per tahun ke 11-12%
(walaupun biasanya ini hanya berlaku untuk saldo 100 juta ke atas - di
bawah  itu  masih berkisar di 3-5% per tahun).
Makanya reksadana doyong karena rame2 diobral oleh para investor.
Bagi mereka, ketimbang mengandalkan return reksadana yang cuma 1% per bulan, dengan resiko
loss cukup  besar, mendingan naro duit di bank yang lebih karuan kepastiannya.

Berbagai strategi dijalankan para bank untuk menarik duit nasabah.
Ada yang nawarin undian berhadiah, bebas administrasi, sampe hadiah langsung.
Hadiah langsungnya juga bervariasi, mulai dari boneka sampe perlengkapan rumah tangga.

Tapi baru kali ini, baru sekali-kali ininya gue denger bank menawarkan  promosi seperti ini:
“Buka Tabungan Bank Emag (nama alias–gak etis rasanya nyebut nama disini) dan dapatkan 1 kardus mie instan”

Mari kita bayangkan peristiwa-peristiwa kocak yang mungkin timbul di kantor bank tersebut:

                                    =$$$=

Seorang pengusaha sukses, pake jas Armani, jam Rolex, kaca mata bingkai  emas, dan sepatu Aigner menghampiri Customer Service Bank Emag.

“Mbak, saya mau buka rekening di bank ini, supaya praktis karena lokasinya dekat rumah.”
“Oh silakan, Pak…”
“Sekalian saya mau buka juga untuk dua anak saya.”
“Baik pak, silakan diisi formulirnya.”
“Hendak masukkan setoran awal berapa, Pak?”
“Taruh di masing-masing rekening 100 juta deh mbak, sekalian buat uang  jajan anak-anak.”  …
“Sudah beres semuanya ya mbak?”
“Sudah Pak, terima kasih telah menggunakan jasa perbankan kami.”
“Sama-sama. Selamat siang.”
“Tunggu sebentar Pak.”
“…Ya?”
“Karena bapak telah membuka 3 rekening dengan setoran awal masing-masing di atas Rp 100 ribu rupiah, maka….tadaaa…. Bapak berhak mendapatkan  TIGA KARDUS MIE INSTAN GORENG.
Kardusnya perlu diikat rafia pak, biar bawanya gampang, gitu?”

                                    =$$$=

Di sebuah rumah…
“Bibiiikkk…. laper bik, bikinin mie instan dong!”
“Maaf, mie instannya habis tuan…”
“Lah, kenapa nggak beli?”
“Di warung juga dari kemarin barangnya kosong tuan…”  “Ck,
gimana sih ini. Ya udah, ini 100 ribu, buka rekening gih sana di Bank
Emag, jangan lupa lusa rekeningnya ditutup lagi ya!”

                                    =$$$=

Di kantor Bank Emag lagi…
“Sudah selesai ibu, rekening tabungan ibu siap digunakan. Dan ini, hadiah langsung 1 dus mie instan untuk ibu”
“Wah dapet mie instan! Lumayan… rasa apa ya mbak?”
“Euh… apa ya ini… oo rasa Mi Goreng, Bu…” 
“Waah… jangan rasa mi goreng deh mbak, suami saya kurang doyan!” 
“Kalo gitu…rasa ayam bawang barangkali bu?” 
“Nahhh… itu baru pas….!”
“Silakan ibu…”
“Eh mbak…”
“Ya…?”
“…anak saya doyannya rasa soto mie. Boleh nggak saya ambilnya setengah - setengah, setengah dus rasa ayam bawang, setengah dus rasa soto mie  gitu…. eh atau kalo dibikin sepertiga-sepertiga gimana mbak, kasih rasa baso sapinya juga deh, pembantu saya doyannya rasa baso sapi
sih….”

(thanks to niar)

Emang bahasa Inggris gampang?

February 11th, 2006 by kawakibee

Bahasa Indonesia memang lebih nyaman. Coba aja ngomong kalimat2 di bawah ini.
Coba dibaca dgn suara ya…

Bahasa Indonesia:
“Tiga nenek sihir mengagumi tiga buah arloji merk Swatch. Nenek sihir mana melihat pada arloji Swatch yang mana?”

Dalam bahasa Inggris:
“Three witches watch three Swatch watches. Which witch watch which Swatch watch?

Yang lainnya…

Bahasa Indonesia:
“Tiga nenek sihir biseksual mengagumi kenop kenop dari tiga arloji Swatch. Nenek sihir biseksual mana yang memandangi kenop arloji Swatch yang mana?”

Dalam bahasa Inggris:
“Three switched witches watch three Swatch watch switches. Which switched witch watch which Swatch watch switch?

hehe…

(thanks to lala)

Dress Code

February 10th, 2006 by kawakibee

Kalo pas dapet undangan ada Dress Codenya, ini nih pakemnya biar enggak saltum:
————————————————————————————————-

Black Tie
Means formal. Men wear tuxedos, women wear cocktail, long dresses or dressy evening separates.

White Tie
Means ultra-formal. Men wear full dress, with white tie, vest, shirt. Women wear long gowns.

Formal
Usually means the same as Black Tie, but in some trendier cities (like New York or Los Angeles) it could mean a black shirt, no tie with a tux. Women wear cocktail, long dresses or dressy evening separates.

Ultra-formal
Means White Tie. Men wear full dress, with white tie, vest, shirt. Women wear long gowns.

Black Tie Optional
Means you have the option of wearing a tuxedo, but it should clue you into the formality of the event, meaning a dark suit and tie would be your other option. Women wear cocktail, long dresses or dressy evening separates.

Black Tie Invited
Means you have the option of wearing a tuxedo, but it should clue you into the formality of the event, meaning a dark suit and tie would be your other option. Women wear cocktail, long dresses or dressy evening separates.

Creative Black Tie
Leaves room for trendy interpretations of formal wear. He can go more modern with a tux — maybe a black shirt, no tie. She wears long or short dresses or evening separates (maybe a long lace or sequined skirt with a sleek cashmere sweater).

Semi-formal
This is the trickiest of all dress codes. Usually it means that tuxes are not required, nor are long dresses. An evening wedding (after 6 PM) would still dictate dark suits for him, and a cocktail dress for her. Daytime semi-formal events mean a suit for him and an appropriate short dress or dressy suit for her.

Cocktail Attire
Means short, elegant dresses for her and dark suits for him.

Dressy Casual
Usually means no jeans or shorts. Similar to business casual, but a tad dressier.

Casual
Generally means anything goes.

Informal
Can mean the same as casual. However, when associated with a wedding or other special event, some form of decorum and good taste should prevail. A dress for her or a nice pair of slacks and shirt for him are informal, but respectful of the event.

(thanks to lala)

Rahasia 90/10

February 10th, 2006 by kawakibee

Apa Rahasia 90/10?

10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita.
90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi / memberi respon.

Apa artinya?
Kita sungguh-sungguh tidak dapat mengontrol 10% kejadian-kejadian yang menimpa kita.
Kita tidak dapat mencegah kerusakan mobil.
Pesawat mungkin terlambat, dan mengacaukan seluruh jadwal kita.
Seorang supir mungkin menyalip kita di tengah kemacetan lalu-lintas.
Kita tidak punya kontrol atas hal yang 10% ini.

Yang 90% lagi berbeda. Kita menentukan yang 90%!
Bagaimana? Dengan reaksi kita.
Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tapi dapat mengontrol reaksi kita.
Jangan biarkan orang lain mempermainkan kita, kita dapat mengendalikan reaksi kita!

Mari lihat sebuah contoh.
Engkau sedang sarapan bersama keluarga.
Adik perempuanmu menumpahkan secangkir kopi ke kemeja kerjamu.
Engkau tidak dapat mengendalikan apa yang telah terjadi itu.

Apa yang terjadi kemudian akan ditentukan oleh bagaimana engkau bereaksi.
Engkau mengumpat. Engkau dengan kasar memarahi adikmu yang menumpahkan kopi.
Dia menangis.
Setelah itu, engkau melihat ke istrimu, dan mengkritiknya
karena telah menaruh cangkir kopi terlalu dekat dengan tepi meja.
Pertempuran kata-kata singkat menyusul.
Engkau naik pitam dan kemudian pergi mengganti kemeja.
Setelah itu engkau kembali dan melihat adik perempuanmu sedang menghabiskan sarapan
sambil menangis dan siap berangkat ke sekolah.
Dia ketinggalan bis sekolah.

Istrimu harus segera berangkat kerja.
Engkau segera menuju mobil dan mengantar adikmu ke sekolah.
Karena engkau terlambat, engkau mengendarai mobil melewati batas kecepatan maksimum.
Setelah tertunda 15 menit karena harus membayar tilang, engkau tiba di sekolah.
Adikmu berlari masuk.

Engkau melanjutkan perjalanan, dan tiba di kantor terlambat 20 menit,
dan engkau baru sadar, bahwa tas kerjamu tertinggal.
Hari-mu begitu buruk.
Engkau ingin segera pulang.

Ketika engkau pulang, engkau menemukan ada hambatan dalam hubungan dengan istri dan adikmu.
Kenapa?
Karena reaksimu pagi tadi.

Kenapa harimu buruk?
a) Karena secangkir kopi yang tumpah?
b) Kecerobohan adikmu?
c) Polisi yang menilang?
d) Karena dirimu sendiri?

Jawaban-nya adalah D.

Engkau tidak dapat mengendalikan tumpahnya kopi itu.
Bagaimana reaksi-mu 5 detik kemudian itu, yang menyebabkan harimu menjadi buruk.

Ini yang mungkin terjadi jika engkau bereaksi dengan cara yang berbeda.

Kopi tumpah di kemejamu. Adikmu sudah siap menangis.
Engkau dengan lembut berkata “Tidak apa-apa sayang, lain kali kamu lebih hati-hati ya”.
Engkau pergi mengganti kemejamu dan dan tidak lupa mengambil tas kerjamu.
Engkau kembali dan melihat adikmu sedang naik ke dalam bus sekolah.
Istrimu menciummu sebelum engkau berangkat kerja.
Engkau tiba di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan riang menyalami para karyawan.
Atasanmu berkomentar tentang bagimana baiknya hari ini buatmu.

Lihat perbedaannya.
Dua skenario yang berbeda.
Keduanya dimulai dari hal yang sama, tapi berakhir dengan berbeda.

Kenapa?
Karena REAKSI kita.

Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang terjadi.
Tapi yang 90% lagi ditentukan oleh reaksi kita.

(thanks to ana gaffy chan)